Senin, 24 November 2014

Cerita Ibu Ani Yang Susah Mencari Pakaian Untuk Hadiri Hari Batik

Ani Yudhoyono mengaku tak hafal jenis dan corak batik Indonesia. Ani pun bertaruh Yayasan Batik Indonesia juga tidak hafal.

"Jenis dan corak batik di Indonesia terbanyak di dunia. Sampai-sampai kita sendiri susah menghitungnya," ujar Ani di Peringatan Hari Batik Nasional, Jakarta, Kamis (2/10), seperti dikutip merdeka.com

Ani kemudian meminta hadirin yang datang untuk menebak jenis dan corak batiknya. Namun, para hadirin termasuk para pendiri Yayasan Batik Indonesia, tidak bisa menebaknya.

"Anda tahu yang saya pake ini batik apa? Yang saya pakai ini Sidomulyo, artinya, berharap si pemakainya mendapat kemuliaan. Insya Allah," ujar Ani.

Ani bercerita, sebelum memakai kain batik sidomulyo, dirinya sempat kebingungan memadu padankan seragam yang diberikan panitia berwarna hijau muda. Ani mengaku semua pakaiannya sudah diboyong ke Cikeas.

"Saya bingung kenapa tidak ada yang padan dengan baju ini. Karena terus terang barang-barang saya sudah diboyong ke Cikeas," ujar Ani.

Lalu, malam itu juga, Ani minta dicarikan kepada ajudannya batik yang cocok dengan warna baju seragamnya hijau muda. Dan akhirnya, ditemukanlah jarit motif batik Sidomulyo.

Pada peringatan Hari Batik Nasional 2014 mengambil tema 'Sogan, Seni Batik Klasik'. Batik sogan merupakan jenis batik di Indonesia yang bernuansa klasik. Warna dominannya variasi dari warna cokelat.

Acara ini dihadiri oleh Ibu Tuti Tri Sutrisno, Menteri Perindustrian MS Hidayat, dan Mantan Menteri Perindustrian Rahadi Ramelan.

Pendiri Yayasan Batik Indonesia Dipo Alam dan Ketuanya Jultin Ginanjar Kartasasmita dan suaminya. Turut dihadiri pula para istri Menteri Kabinet Indonesia Bersatu dan para pengusaha batik Indonesia.
[Continue Reading]

Di Bantul Industri Kerajinan Batik Serap 2.056 Tenaga Kerja

Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencatat industri kecil menengah sektor kerajinan batik di seluruh wilayah ini mampu menyerap sebanyak 2.056 tenaga kerja pembatik.

"Data terakhir industri kecil menengah (IKM) batik di daerah kita ada sebanyak 612 IKM atau rumah produksi batik dengan didukung 2.056 pembatik. Itu karena tiap IKM ada beberapa pekerja," kata Kasi Sarana Usaha Industri, Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Bantul, Suryono, Minggu (14/9/2014), seperti dikutip dari seruu.com

Menurut dia, IKM batik di Bantul bukan hanya memproduksi batik kain, namun juga batik kayu, batik bambu hingga pisau batik. Batik tersebut sebagian besar diproduksi perajin secara tradisional (batik tulis) sesuai ciri khas dan motif masing-masing.

Ia mengatakan, sentra batik terdapat di Giriloyo, Desa Wukirsasi Imogiri dan Desa Wijirejo Pandak. Dua sentra batik tersebut selama ini telah dikenal masyarakat pecinta batik, karena masing-masing sentra memiliki ciri khas dan motif tersendiri.

"Kalau yang banyak itu ada di dua sentra, namun kalau keberadaannya tersebar di sembilan kecamatan di antaranya Banguntapan, Pajangan, Kasihan dan Pleret, umumnya mereka memproduksi di rumah masing-masing," kata Suryono.

Oleh sebab itu, kata dia, dinas terus mendorong pertumbuhan IKM batik di Bantul dengan berbagai kreativitas perajin baik dengan cara tradisional maupun yang dikombinasikan secara modern (batik cap). Apalagi saat ini batik telah diakui organisasi dunia UNESCO.

"Pertumbuhan batik di Bantul sendiri fluktuatif, namun cenderung mengalami kenaikan antara lima sampai sepuluh persen per tahun. Ini karena pasarannya sudah bagus setelah diakui dunia, terutama batik kreatif yang menjadi ciri khas daerah," katanya.

Menurut dia, dalam industri batik memang saat ini telah banyak produk batik yang diproduksi dengan cara modern (batik cap), begitu juga motif baru, sehingga pihaknya berharap para perajin batik dapat mempertahankan batik tradisional yakni batik tulis dengan pewarna alami.

"Bantul memang sebagian besar batik tradisional, sehingga harapannya terus dipertahankan, apalagi ketika barang itu (kain batik, batik kayu) telah memiliki nilai seni tinggi maka akan memiliki nilai jual yang tinggi pula," katanya.
[Continue Reading]

Desain Batik Mahasiswa Solo Menang di Taiwan

Dua mahasiswa Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta berhasil menjuarai kompetisi desain batik bertajuk Taiwan Excellence Batik Competition di Taiwan. Juara pertama diraih Sugeng Wijayanto, 22 tahun, mahasiswa Jurusan Seni Rupa Murni angkatan 2010, sedangkan juara kedua diraih Utsman Aminuddin Sulaiman, 22 tahun, mahasiswa Jurusan Kriya Tekstil angkatan 2009. Kompetisi tersebut dilakukan dengan mengirimkan karya desain sejak 28 Agustus hingga 29 September 2014.

Sugeng mengatakan, desain batik yang dia buat menggabungkan motif dan ornamen batik dari berbagai daerah di Indonesia. Dia menilai, desain batik tersebut menggambarkan kekayaan budaya Indonesia. Berbagai kreativitas yang ada dijadikan satu hingga menjadi motif batik yang baru. "Saya gabung dan kreasikan motif batik kawung, ornamen Madura, ornamen Kalimantan, dan motif geometris," katanya di kampus UNS Surakarta, Senin, 17 November 2014. "Selain dicetak di kertas, saya juga mencetaknya di kain mori dengan teknik sablon,"ucapnya. Sebagai pemenang pertama, dirinya mendapat uang tunai Rp5 juta dan sebuah ponsel pintar, seperti dilansir tempo.co

Sedangkan Utsman mengusung batik motif naga dan kinnari, yaitu makhluk surgawi berwujud manusia setengah burung dalam mitologi Hindu dan Buddha. "Kedua makhluk tersebut saya padankan dengan motif batik mega mendung,"katanya. Motif mega mendung adalah hasil akulturasi antara budaya Cina, Islam, dan budaya asli Indonesia. Motif batik yang dia buat menceritakan hubungan antarbudaya yang saling berdampingan, saling menguatkan yang dilambangkan dengan naga, dan bernilai luhur seperti sosok kinnari.

Ustman mengaku, hanya butuh waktu satu hari satu malam untuk membuat desain batik Naga Kinnari. Desainnya dominan warna oranye, yang menunjukkan kesenangan, keberanian, antusiasme, dan rasa percaya. Kemudian dikombinasikan dengan warna merah yang berani dan warna biru yang melambangkan ketenangan. Menurutnya, desainnya cukup sulit diwujudkan untuk motif batik tulis karena kerumitannya. "Lebih cocok untuk batik cap dan printing," ujarnya.

Menyadari karyanya diminati, keduanya berencana mengembangkan desain batik untuk pasar Indonesia. "Saya ingin menjadi desainer motif batik," kata Utsman yang mendapat hadiah uang tunai Rp2 juta dan sebuah tablet.
[Continue Reading]

Batik Indonesia Dipuji Diluar

Salah satu warisan budaya negeri ini akhirnya "diakui" keberadaanya di Dunia. Batik Indonesia telah diakui sebagai warisan budaya dunia. Sejak tahun 2009, batik resmi diakui UNESCO dengan dimasukkan ke dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity).

Delegasi OKI asal Tunisia, Hanem menyatakan batik Indonesia pantas menjadi warisan budaya yang diakui dunia internasional, karena bahan dan motifnya cocok digunakan oleh semua masyarakat di dunia, seperti dilansir seruu.com

"Sangat mengagumkan, Indonesia pasti bangga memiliki batik di negaranya," ujar Hanem.

Hal serupa juga disampaikan Delegasi OKI asal Djibouti selaku Direktur Urusan Gender, Choukri Houssein. Menurutnya, batik Indonesia memang menawan, namun harganya terbilang cukup mahal.

"Kualitasnya baik sekali, tapi bagi kami harganya sangat mahal," kata Choukri serata tersenyum.

Sementara itu, Delegasi asal Mozambik, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Sosial Budaya Mozambik Iolanda Cintura, mengungkapkan rasa kagumnya kepada para perempuan pembatik Indonesia. Mereka, lanjut Iolanda, adalah wanita hebat yang mampu membuat produk berkualitas dan dapat memberikan pemasukan bagi keluarga.

"Pembatik perempuan di Indonesia sangat bagus, karena dengan keahliannya, mereka dapat membantu perekonomian keluarga," kata Iolanda.

Iolanda menambahkan, dengan membantu perekonomian keluarga, para pembatik perempuan juga dapat membantu pertumbuhan ekonomi pemerintah, karena telah mengembangkan usaha mikro kecil dan menengah domestik.

Sejak menetapkan batik sebagai warisan budaya Indonesia, UNESCO mengakui Batik Indonesia mempunyai teknik dan simbol budaya yang menjadi identitas rakyat Indonesia. Mulai dari lahir sampai meninggal, bayi digendong dengan kain batik bercorak simbol yang membawa keberuntungan, dan yang meninggal ditutup dengan kain batik.

Tapi setelah batik dipuji oleh dunia jangan sampai kita tidak melestarikannya, dan masih banyak warisan yang dimiliki Indonesia yang harus dilestarikan dari budaya sampai ke alam.
[Continue Reading]

Saat Keliling Dunia Kristina Pilih Pakai Batik

Penyanyi dangdut Kristina memilih batik sebagai kostum panggungnya saat konser di luar negeri. Baginya, menggunakan batik saat ke luar negeri adalah salah satu upaya mengenalkan Indonesia yang kaya akan budaya dan warisan leluhurnya.

“Musik dangdut itu asli Indonesia, batik juga khas Indonesia. Jadi kalau saya menggunakan batik pada saat nyanyi di luar negeri, saya bisa mengenalkan dua budaya Indonesia sekaligus,” Ujarnya seperti dikutip dari infogayaa.blogspot.com.

Menurutnya, menggunakan batik merupakan sebuah upaya melestarikan budaya bangsa dan kebanggaan yang harus ditunjukkan kepada bangsa luar. “Terus terang, aku senang sekali kalau menghadiri acara yang ada dresscode batiknya. Aku merasa lebih anggun dan ada merasa sangat Indonesia kalau sudah pakai batik atau kebaya,” jelas wanita berzodiak taurus ini.

Diakuinya, ia selalu menyediakan beberapa setel batik di dalam koper, baik berupa atasan, rok, atau pun dress. Batik yang dipilihnya pun tak melulu berasal dari tanah Jawa.

“Bukan berarti aku orang Jawa, lalu aku hanya pakai batik Jawa. Aku pakai batik dari seluruh daerah Indonesia. Aku masukin semua koleksiku ke dalam koper kalau mau konser ke luar. Kemarin juga aku manggung di Amerika, Korea, Singapur, Malaysia dan Thailand pakai batik!” tuturnya bersemangat.
[Continue Reading]

Pada Selembar Kain Batik Ada Filosofi Hidup

Ayu Dyah Pasha mengaku sangat mencintai batik. Baginya, batik merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan.

“Batik itu adalah warisan adiluhur yang dimiliki oleh bangsa, batik kita juga udah diakui dunia oleh UNESCO. Jadi kita harusnya lebih bangga dari orang-orang di luar sana yang sangat mengagumi batik itu sendiri,” Ujarnya, seperti dikutip dari infogayaa.blogspot.com

Ayu juga menuturkan bahwa terdapat nilai filosofi hidup di dalam batik. Menurutnya, ada kekuatan, cinta, kreativitas, dan kelembutan dari tangan para pembuatnya untuk membuat sebuah kain cantik yang mahal harganya.

Mahal di sini maksudnya bukan sekedar urusan rupiah, tetapi lebih dari itu. Kreativitas bahkan akan lebih mahal harganya dari angka yang tertera pada brandrol di toko-toko pakaian.

“Anak-anak muda harus lebih mencintai batik sebagai salah satu warisan negara, bahkan UNESCO pun telah mengakuinya. Sebagai Ketua Ikatan Pecinta Batik Nusantara, saya ingin mendorong anak muda untuk cinta akan batik dan bangga saat menggunakannya,” tutup Ayu.
[Continue Reading]
Powered By Blogger · Designed By Blogger Templates